Selasa, 23 Oktober 2012

Pengamat Ekonomi Politik Christianto Wibosono

. Selasa, 23 Oktober 2012

Pengamat ekonomi politik Christianto Wibosono menilai siapa pun yang menjadi Presiden RI mendatang pemerintahannya tidak akan berjalan efektif karena terganggu oleh kepentingan partai politik di parlemen.

"Hal ini terjadi karena karakter para elite di partai politik masih berorientasi mengejar kekuasaan," kata Christianto Wibisono pada diskusi peluncuran buku berjudul "Soeharto Murid Soekarno" karya politisi Roy B.B. Janis di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Selasa.

Pembicara lainnya pada diskusi tersebut adalah anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra Martin Hutabarat, pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indoneia (LIPI) Syamsuddin Haris, serta Ketua Pelaksana Harian Pimpinan Kolektif Nasional Partai Demokrasi Pembaruan Roy B.B. Janis yang juga penulis buku.

Menurut Christianto, siapa pun presidennnya jika perolehan suaranya tidak mendominasi jumlah kursi di parlemen, tetap harus tunduk kepada kepentingan partai politik di DPR RI.

Pendidik Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI) ini mencontohkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mendapat dukungan suara sebesar 60,8 persen pada Pemilu Presiden RI 2009, tetapi pemerintahannya tidak berjalan efektif.

Hal ini, kata dia, karena perolehan suara Partai Demokrat pada pemilu legislatif 2009 hanya sekitar 20 persen sehingga harus membentuk koalisi dengan partai-partai politik lainnya di parlemen.

Christianto menilai pemerintahan yang tidak berjalan efektif karena sistem ketatanegaraannya menjadi bias karena kepentingan partai politik.

Ekonom yang pernah tinggal di Amerika Serikat ini mencontohkan ada perbedaan posisi elite politik antara partai politik di Indonesia dan di Amerika Serikat.

Menurut dia, elite politik di Indonesia, terutama ketua umum partai politik, masih berorientasi mengejar kekuasaan, sedangkan di Amerika Serikat tidak mengejar kekuasaan tetapi memosisikan diri mencari kader terbaik untuk menjadi calon pemimpin.

Christianto mengimbau agar partai politik di Indonesia bisa mengubah orienstasinya dengan memilih ketua umum di kemudian hari tidak menjadi calon presiden.

Sementara itu, pengamat dari LIPI, Syamsuddin Haris, menyatakan bahwa Indonesia ke depan membutuhkan sistem pemerintahan presidensial yang efektif.

Guna menciptakan sistem presidensial yang efektif, dia mengusulkan perlu dikaji ulang aturan mengenai seleksi calon presiden mulai dari partai politik.

"Seleksi calon pemimpin nasional, sebaiknya melibatkan publik sebanyak mungkin. Jangan seperti saat ini seolah-olah menjadi wilayah penuh partai politik," katanya.

Penulis buku "Soeharto Murid Soekarno", Roy B.B. Janis menyatakan dirinya memilih judul buku tersebut guna menggambarkan bahwa setiap pergantian rezim belum tentu menghasilkan sesuatu yang lebih baik.

Baca Juga: Fortuner SUV Terbaik By Kanghari

0 komentar: